JAKARTA - Kebangkitan sektor industri nasional memerlukan jembatan yang kokoh antara dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan praktis di lapangan. Menyadari hal tersebut, langkah besar diambil untuk mengintegrasikan keahlian profesional dengan kurikulum akademik guna menjawab tantangan ekonomi global. Melalui kolaborasi strategis, fokus pembangunan kini diarahkan pada penciptaan ekosistem yang mampu mencetak tenaga ahli siap pakai yang didukung oleh sertifikasi profesional yang diakui secara luas. Upaya ini bukan sekadar seremoni kerja sama, melainkan sebuah misi untuk menempatkan kembali industri sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia melalui penguatan modal manusia yang kompeten dan adaptif terhadap teknologi masa depan.
Membangun Modal Manusia Sebagai Kunci Keberlanjutan
Langkah konkret menuju kedaulatan industri tersebut ditandai dengan seremoni resmi di ibu kota. Universitas Pertamina dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menjalin kerja sama setelah menandatangani nota kesepahaman atau MoU untuk mewujudkan reindustrialisasi. Pertemuan ini mempertemukan visi akademis dengan visi keprofesian insinyur dalam satu wadah kerja sama yang terintegrasi.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Alyosius Mantiri saat menghadiri kerja sama tersebut mengingatkan bahwa masa depan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Dalam pandangannya, kekayaan alam yang melimpah tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa adanya tangan-tangan ahli yang mengelolanya. “Indonesia memiliki sumber daya alam, namun kunci utama keberlanjutan ada pada kualitas manusianya. Dalam hal ini, Universitas Pertamina memegang kunci keberlanjutan,” ujar Simon dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Keunggulan Ekosistem Industri di Universitas Pertamina
Salah satu alasan kuat di balik kolaborasi ini adalah keunikan model pendidikan yang diterapkan oleh Universitas Pertamina. Sebagai institusi pendidikan di bawah naungan BUMN energi terbesar di Indonesia, universitas ini memiliki akses langsung ke laboratorium industri yang sesungguhnya. Hal ini menjadi daya tarik utama bagi organisasi profesi seperti PII untuk turut serta mengasah kemampuan para calon insinyur.
Simon menjelaskan bahwa Universitas Pertamina memiliki poin pembeda dengan kampus lain, yakni kedekatan dengan ekosistem industri hingga program magang. Keunggulan komparatif ini memastikan bahwa para lulusan tidak hanya menguasai teori di atas kertas, tetapi juga memiliki ketajaman dalam menganalisis persoalan di lapangan. Dengan demikian, mahasiswa dapat memahami realitas dunia kerja industri dengan lebih baik.
Strategi Reindustrialisasi Melalui Penguatan Profesi Insinyur
Dari sisi organisasi profesi, kolaborasi ini dipandang sebagai amunisi baru untuk menggerakkan kembali roda industri nasional melalui peningkatan jumlah praktisi yang bersertifikasi. Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie mengatakan MoU tersebut merupakan awal kerja sama pihaknya dengan universitas di bawah naungan Pertamina. Fokus pada reindustrialisasi menjadi payung besar dari seluruh poin yang disepakati dalam nota kesepahaman tersebut.
Menurut Ilham, kerja sama tersebut menjadi upaya strategis dalam rangka reindustrialisasi Indonesia. Tantangan industri saat ini membutuhkan standar profesionalisme yang tinggi, dan perguruan tinggi adalah tempat terbaik untuk mulai menanamkan standar tersebut. “Kami, PII, punya program utama reindustrialisasi. Jadi, ini upaya strategis dalam rangka reindustrialisasi Indonesia,” ujar Ilham.
Program Studi Profesi dan Pengembangan Riset Ilmiah
Implementasi dari kerja sama ini akan menyentuh aspek-aspek teknis yang berkaitan langsung dengan karier para lulusan teknik. Lebih lanjut Ilham mengatakan upaya reindustrialisasi bersama Universitas Pertamina tersebut dapat berupa program studi profesi insinyur untuk memperbanyak insinyur profesional yang aktif mengisi di berbagai industri. Program ini diharapkan dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan tenaga ahli dalam proyek-proyek strategis nasional.
Selain pada aspek pengajaran dan sertifikasi, kolaborasi ini juga merambah ke dunia riset dan publikasi. Inovasi teknologi yang lahir dari laboratorium universitas perlu didokumentasikan dan diuji secara ilmiah agar dapat diterapkan secara massal. Selain itu, dia mengatakan kerja sama tersebut dapat berupa penerbitan jurnal ilmiah. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan literasi teknologi dan daya saing insinyur Indonesia di kancah internasional, sekaligus menjadi landasan ilmiah bagi kebijakan reindustrialisasi nasional di masa depan.
Menyongsong Masa Depan Industri Indonesia
Penandatanganan nota kesepahaman ini, yang juga dihadiri oleh Rektor Universitas Pertamina Prof. Wawan Gunawan A. Kadir pada Kamis, menjadi tonggak penting bagi kedua belah pihak. Dengan menyatukan sumber daya yang dimiliki, Universitas Pertamina dan PII optimistis dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengubah wajah industri Indonesia menjadi lebih mandiri dan berdaya saing tinggi. Fokus pada kualitas manusia sebagai mesin utama pembangunan tetap menjadi filosofi dasar yang akan mengawal setiap langkah operasional dari kerja sama strategis ini.