Menko PM

Menko PM Sebut Kolaborasi Kunci Kesejahteraan Rakyat Indonesia

Menko PM Sebut Kolaborasi Kunci Kesejahteraan Rakyat Indonesia
Menko PM Sebut Kolaborasi Kunci Kesejahteraan Rakyat Indonesia

JAKARTA - Upaya pengentasan kemiskinan tidak lagi bisa bertumpu pada satu pihak saja. 

Pemerintah, lembaga filantropi, dan berbagai elemen masyarakat dituntut bergerak bersama dalam satu visi yang sama. 

Dalam kerangka itulah gerakan Kolaborasi Indonesia Berdaya diluncurkan, sebagai bentuk sinergi nyata untuk memperkuat kesejahteraan rakyat dan mendorong penanggulangan kemiskinan yang lebih terarah serta berkelanjutan.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menekankan, pentingnya sinergi dan kolaborasi pemerintah dengan lembaga filantropi dalam gerakan Kolaborasi Indonesia Berdaya, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menanggulangi kemiskinan. 

“Pemberdayaan masyarakat melalui gerakan Kolaborasi Indonesia Berdaya ini adalah bagian yang harus sungguh-sungguh kita lakukan secara kolaborasi yang betul-betul kita sebagai mitra sejajar bisa menghadirkan program-program yang efektif," kata Muhaimin Iskandar.

Peluncuran Kolaborasi Indonesia Berdaya mengusung tema “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya”. Tema ini mencerminkan semangat kolektif untuk bangkit dari berbagai tantangan sosial dan ekonomi melalui kerja sama yang setara antara pemerintah dan mitra filantropi. 

Momentum tersebut dinilai penting untuk menyatukan pengalaman panjang kedua pihak dalam membangun pendekatan baru yang lebih efektif.

Pentingnya Sinergi Pemerintah dan Filantropi

Menurut Muhaimin Iskandar, gerakan ini menjadi ruang strategis untuk menggabungkan kekuatan negara dan masyarakat sipil. Pemerintah memiliki kebijakan, data, serta infrastruktur program yang luas, sementara lembaga filantropi memiliki fleksibilitas, jaringan akar rumput, dan kedekatan langsung dengan masyarakat penerima manfaat.

“Penanggulangan kemiskinan yang dikerjakan oleh pemerintah terus menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan upaya kita meningkatkan kesejahteraan dan menanggulangi kemiskinan," kata Muhaimin Iskandar.

Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan program yang tidak tumpang tindih, lebih tepat sasaran, dan berdampak jangka panjang. Sinergi menjadi kata kunci agar setiap upaya yang dilakukan saling melengkapi dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Dengan pola kemitraan sejajar, program pemberdayaan diharapkan mampu menyentuh aspek ekonomi, sosial, hingga peningkatan kapasitas masyarakat.

Pendekatan kolaboratif juga dinilai relevan menghadapi kompleksitas persoalan kemiskinan yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga struktural dan kultural. Karena itu, diperlukan strategi yang komprehensif serta dukungan dari berbagai pihak.

Capaian dan Tantangan Pengentasan Kemiskinan

Muhaimin Iskandar menyampaikan bahwa angka kemiskinan menurun hingga 8,25 persen per September 2025. Meski demikian, ia menilai capaian tersebut belum cukup jika tidak diiringi dengan pemberdayaan yang berkelanjutan. Penurunan angka secara statistik harus diikuti dengan penguatan kapasitas masyarakat agar tidak kembali terjerumus dalam kondisi rentan.

Selain itu, berbagai musibah yang terjadi secara berulang di Tanah Air juga berpotensi memicu munculnya kemiskinan baru. 

Bencana alam, gejolak ekonomi, maupun krisis sosial dapat dengan cepat menggerus capaian yang telah diraih. Kondisi tersebut menjadi tantangan serius dalam mencapai target penghapusan kemiskinan ekstrem 0 persen pada 2026.

“Tapi kita yakin penanggulangan kemiskinan dengan berbagai upaya termasuk yang paling penting hari ini Kolaborasi Indonesia Berdaya ini, kemiskinan tidak boleh lagi menjadi fakta yang terus menerus tanpa diatasi secara fundamental. Kemiskinan tidak boleh menjadi realitas struktural, realitas kultural, realitas warisan dari berbagai pengalaman yang ada," pesan Muhaimin Iskandar.

Pesan tersebut menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan harus dilakukan secara mendasar. Tidak hanya sekadar bantuan sesaat, tetapi juga melalui transformasi sosial dan ekonomi yang mampu memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Aksi Nyata dalam Peluncuran Kolaborasi

Peluncuran Kolaborasi Indonesia Berdaya tidak hanya berhenti pada seremoni dan pernyataan komitmen. Dalam acara tersebut, Kemenko Pemberdayaan Masyarakat bersama sejumlah lembaga filantropi langsung menghadirkan aksi nyata bagi masyarakat.

Sebanyak 1.000 bingkisan dibagikan untuk anak yatim, 10.000 paket buka puasa sunah disalurkan bagi masyarakat umum, serta bantuan pemulihan untuk Sumatra senilai Rp4,1 miliar diberikan sebagai bagian dari dukungan terhadap wilayah terdampak. 

Langkah ini menjadi simbol bahwa kolaborasi yang dibangun tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga langsung diwujudkan dalam bentuk program konkret.

Kegiatan sosial tersebut sekaligus mencerminkan nilai solidaritas dan gotong royong yang menjadi fondasi gerakan Kolaborasi Indonesia Berdaya. Pemerintah dan lembaga filantropi menunjukkan bahwa sinergi dapat mempercepat penyaluran bantuan serta memperluas jangkauan penerima manfaat.

Harapan Menuju Indonesia Lebih Berdaya

Gerakan Kolaborasi Indonesia Berdaya diharapkan menjadi model kemitraan yang berkelanjutan, bukan sekadar program jangka pendek. 

Dengan pendekatan kolaboratif, diharapkan program pemberdayaan mampu menciptakan masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan.

Tema “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya” mengandung pesan bahwa pemulihan tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri. Kebangkitan ekonomi dan sosial harus dibangun melalui kerja sama yang kuat, transparan, dan akuntabel. 

Pemerintah dan lembaga filantropi memiliki peran strategis dalam menciptakan ekosistem pemberdayaan yang inklusif.

Dengan komitmen yang ditegaskan dalam peluncuran ini, Kolaborasi Indonesia Berdaya menjadi salah satu langkah penting menuju target penghapusan kemiskinan ekstrem 0 persen pada 2026. 

Lebih dari itu, gerakan ini diharapkan mampu membangun fondasi kesejahteraan yang berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index